The Better-than-Average Effect

kenapa hampir semua orang merasa kemampuan menyetirnya di atas rata-rata

The Better-than-Average Effect
I

Coba bayangkan kita sedang terjebak di kemacetan jalanan ibukota. Udara terasa panas, suara klakson bersahutan tidak sabar, dan tiba-tiba ada mobil yang menyalip jalur kita tanpa menyalakan lampu sein. Refleks pertama kita mungkin menghela napas panjang dan bergumam, "Ya ampun, siapa sih yang memberi orang ini SIM?" Pernahkah kita, dalam momen-momen emosional di balik kemudi seperti itu, berhenti sejenak dan berpikir secara logis. Kalau semua orang di jalan raya merasa dirinya adalah pengemudi yang baik dan selalu menyalahkan orang lain, lalu siapa sebenarnya pengemudi yang buruk itu? Secara statistik, tidak mungkin kita semua berada di atas rata-rata. Logika dasar matematika saja menolaknya secara tegas. Namun anehnya, otak kita sangat yakin bahwa kitalah pengecualian tersebut.

II

Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar tebak-tebakan jalanan belaka. Pada awal tahun 1980-an, seorang peneliti bernama Ola Svenson melakukan sebuah eksperimen yang kini menjadi legenda di dunia psikologi. Ia mengumpulkan sekelompok pengemudi dan meminta mereka menilai kemampuan menyetir mereka sendiri. Hasilnya sangat tidak masuk akal. Di Amerika Serikat, 93 persen pengemudi merasa kemampuan mereka berada di atas rata-rata. Sebanyak 93 persen! Coba kita bayangkan keanehan matematis ini. Bagaimana mungkin hampir seluruh populasi lebih hebat dari nilai tengah populasinya sendiri? Kelucuan ini ternyata tidak berhenti di jalan raya. Saat ditanya tentang seberapa pintar kita, seberapa baik kita sebagai sahabat, atau seberapa etis keputusan-keputusan kita, mayoritas dari kita akan dengan sangat percaya diri menempatkan diri di kuadran atas. Kita seolah hidup dalam sebuah ilusi massal yang nyaman. Pertanyaannya, mengapa otak kita yang luar biasa kompleks ini mendadak gagal total dalam matematika dasar saat harus menilai diri sendiri? Rupanya, ada sebuah rahasia evolusioner kuno yang sedang disembunyikan rapat-rapat oleh pikiran kita.

III

Mari kita mundur sejenak ke masa lalu, jauh sebelum ada lampu merah, jalan tol, atau aspal jalanan. Mari kita kunjungi nenek moyang kita di padang sabana ribuan tahun silam. Bertahan hidup pada masa prasejarah adalah pekerjaan yang sangat brutal dan penuh tekanan. Jika nenek moyang kita selalu pesimis, merasa lemah, dan terlalu realistis dengan kemampuan mereka saat berburu hewan buas, mereka mungkin tidak akan pernah berani keluar dari gua. Rasa takut dan keraguan yang berlebih akan melumpuhkan mereka. Dari sinilah evolusi merancang sebuah mekanisme pertahanan yang brilian di dalam struktur saraf kita. Secara biologis, otak kita dirancang untuk memproduksi hormon seperti serotonin dan dopamin ketika kita merasa berharga dan kompeten. Perasaan "saya lebih tangguh dari yang lain" bertindak layaknya perisai psikologis pelindung ego. Otak kita secara aktif dan diam-diam menyaring informasi. Ia akan dengan cepat mengingat momen saat kita berhasil parkir paralel dalam satu gerakan mulus, dan dengan sengaja "menghapus" memori saat kita tidak sengaja menyerempet pot tanaman tetangga. Ini bukan berarti kita berbohong secara sadar. Otak kita sekadar sedang menjalankan software pertahanan diri agar kita tidak hancur oleh realitas bahwa kita mungkin, ya, biasa-biasa saja.

IV

Namun, perlindungan evolusioner ini datang dengan harga yang harus dibayar dalam interaksi sosial kita saat ini. Dalam dunia psikologi modern, kacamata kuda ini dikenal dengan sebutan Better-than-Average Effect atau ilusi superioritas. Inilah kepingan puzzle besar yang akhirnya menjawab misteri kenapa kita sering kali begitu keras menghakimi orang lain, tetapi sangat pemaaf pada diri kita sendiri. Ketika mobil lain memotong jalan, otak kita langsung menyimpulkan bahwa pengemudinya memang ceroboh, egois, atau berkarakter buruk. Namun, ketika situasi memaksa kita yang harus memotong jalan orang lain, otak kita dengan sigap membuat alasan situasional pelindung: "Saya sedang buru-buru karena urusan darurat", atau "Jalur saya tiba-tiba habis di depan". Kesalahan kognitifnya ada di sini: kita menilai orang lain semata-mata dari tindakan luar mereka, tetapi kita menilai diri kita sendiri dari niat tulus kita. Ilusi superioritas inilah yang mengelabui kita untuk merasa paling rasional, paling bijak, dan tentu saja, paling jago menyetir. Secara saintifik, bias ini tertanam sangat dalam di cortex prefrontal kita, area otak yang bertugas mengurus identitas dan persepsi diri. Menyadari ilusi ini bekerja ibarat menyalakan lampu terang di ruangan yang tadinya gelap gulita.

V

Lalu, apa yang bisa kita lakukan setelah sama-sama memahami fakta biologis dan psikologis ini? Tentu saja, kita tidak perlu membuang rasa percaya diri kita sama sekali. Percaya diri itu sangat sehat dan krusial untuk menjaga kewarasan kita sehari-hari. Namun, sains di sini menawarkan sebuah hadiah yang jauh lebih berharga dan tahan lama daripada sekadar ilusi kehebatan semu, yaitu empati. Mulai sekarang, setiap kali teman-teman berada di jalan raya yang padat dan melihat ada pengemudi yang perilakunya membuat kita mengelus dada, cobalah untuk menarik napas dan tersenyum kecil. Ingatlah bahwa kita dan dia sebenarnya sedang menjalankan program biologi otak yang persis sama. Kita semua pada dasarnya hanyalah manusia-manusia prasejarah yang sedang mencoba menavigasi kerumitan hutan beton modern, berbekal otak yang selalu berbisik nakal bahwa kita lebih hebat dari kenyataannya. Sesekali mengakui secara jujur bahwa kita adalah manusia yang rata-rata dan banyak kurangnya bukanlah sebuah kelemahan. Justru, penerimaan itulah yang melatih kita menjadi lebih toleran, lebih tenang, dan tanpa kita sadari, perlahan-lahan menjadikan kita pengemudi—dan manusia—yang benar-benar sedikit lebih baik dari hari kemarin.